Indonesia di Mata Vietnam
Oleh
Venni Winta Pratiwi
![]() |
| bersama Bapak Bambang T |
Diberi kesempatan menjadi duta bangsa Indonesia di negara “Ladang Seribu Ranjau” merupakan sebuah penghormatan yang sangat besar untuk saya. Dalam rangka pertukaran budaya yang bertajuk Bilateral Student Leaders’ Adventure Camp (BiSAC), saya dan ditemani oleh 25 mahasiswa pilihan lainnya dari berbagai pelosok daerah berangkat menjadi delegasi Indonesia dengan membawa citra nama Indonesia. Kegiatan ini diberikan tidak percuma oleh ASEAN Youth Friendship Network (AYFN). Kegiatan ini berlangsung selama seminggu (21-27Mei) dengan acara berpusat di Ho Chi Minh City, salah satu kota besar di Vietnam Selatan yang dulu bernama Saigon. Program ini merupakan salah satu upaya people-to-people contact yang merupakan bagian dari soft power diplomacy Indonesia, yang dimana dapat meningkatkan pemahaman, menumbuhkan persahabatan serta saling menghargai antara Indonesia dan Vietnam dalam menuju ASEAN Community 2015.
![]() |
| bersama kita tertawa |
Tidak main-main, di program ini saya beserta tim diberikan kesempatan untuk bisa mengajarkan Bahasa Indonesia pada mahasiswa University of Social Sciences and Humanities (USSH), bahasa yang menjadi pemersatu daerah di Indonesia, bahasa yang harusnya menjadi kebanggaan untuk kita sebagai bangsa Indonesia, dan harusnya kita jaga keberadaannya – bukan disalahgunakan dan dicampur adukkan dengan bahasa aneh lainnya yang sering anak muda anggap lebih keren. Dengan antusiasme yang tinggi, mereka belajar bersama dengan kami. Menurut mereka, bahasa kami adalah bahasa yang mempunyai eksotisme tersendiri, bahasa unik, bahasa yang sulit diejakulasikan, bahasa yang mempunyai daya magis tersendiri yang membuat mereka ingin lebih tahu dan tahu lagi. Tidak tanggung-tanggung akan rasa penasaran mereka, ternyata mereka pun sudah membuat jurusan sastra Indonesia yang peminatnya dari tahun ke tahun terus bertambah. Subhanallah, betapa merasa berharganya kami memiliki bahasa Indonesia yang dihargai seperti ini.
![]() |
| sehabis pertunjukan daerah |
![]() |
| semua tawa menjadi satu |
Kami juga mengenalkan bagaimana indahnya kebudayaan kami, dan betapa cantiknya negara kami. Kami menjelaskan bagaimana bervariasinya kebudayaan serta persatuan kami, memutar video tentang Indonesia dengan latar musik yang membuat kami terhanyut dalam kekhusyukannya, menampilkan tarian, pakaian, dan musik tradisional di depan khalayak umum yang dari kesemuanya itu menghasilkan luar biasanya decak kagum dari bibir dan mata mereka. Subhanallah, tertunduk malu, seketika tersadar betapa bodohnya saya baru tahu bagaimana indahnya Indonesia, betapa harusnya bangganya kita menjadi negara Indonesia, betapa harusnya kita bisa memanfaatkan, menjaga, dan melestarikan kebudayaan itu semestinya. Bukan malah menyukai kebudayaan asing, meniru kebudayaan mereka dan mengabaikan serta tak acuh terhadap budaya sendiri, ketika orang lain ingin memelihara kebudayaan itu agar kaya, kami baru teriak-teriak tidak jelas tanpa tahu apa sih yang kami ributkan. Miris memang.
![]() |
| berfoto di depan kantor Konjen RI di Vietnam |
Kami diberi penghormatan pula untuk dapat bertemu dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Ho Chi Minh City yakni Bapak Bambang Tarsanto beserta lainnya. Kami diundang untuk datang ke tempat kerja beliau, melakukan diskusi terbuka dengan beliau. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya tanyakan bagaimana masalah Kesehatan masyarakat disana, sistem pelayanan serta pendidikan kesehatan disana. Disana dapat saya simpulkan, ternyata tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Beliau menyatakan bahwa sistem pelayanan mungkin ada beberapa hal yang kita lebih unggul dan sistematis dibandingkan dengan di Vietnam, tapi dari pribadi pribumi disana sudah sangat menjaga sekali kesehatan mereka dilihat dari pola makan serta bagaimana aktivitas disana. Pagi hari melihat mereka makan dengan tidak berlebihan ditemani teh pahit favorit mereka, disela aktivitas mereka selalu membawa air mineral, sore hari melihat banyak orang berdatangan ke taman-taman kota, dan tidak jarang saya melihat mereka berolahraga dengan menggunakan fasilitas yang sudah di disediakan pemerintah disana.
![]() |
| tertawa bersama bagaikan keluarga |
Kami juga pergi ke panti asuhan untuk sekedar berbagi keceriaan bersama anak-anak pintar disana dan memberikan sumbangan ala kadarnya yang semoga dapat menjadi manfaat besar untuk mereka ke depannya. Hampir sama dengan Indonesia, keadaan mereka juga sangat memprihatinkan. Dengan fasilitas seadanya ditemani kepolosan dan kesederhanaan, mereka masih bisa hidup tersenyum bahagia. Disana ternyata mereka sudah diajarkan bahasa Inggris sedari awal, jadi kami tidak perlu repot berbicara dengan mereka, jika mereka tidak mengerti, kami menggunakan bahasa tubuh yang membuat mereka tertawa. Hahaha.. Sekitar empat jam kami bermain bersama mereka seperti menjadi kakak untuk mereka, waktu pun datang dan kami harus berpisah, ditemani dengan perasaan bahagia, haru biru, tangisan yang menyatu.
![]() |
| penjamuan hangat yang sangat luar biasa |
Kegiatan BiSAC ini ditutup dengan undangan makan malam oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di rumah dinasnya. Kami dijamu sangat istimewa disana, makan bersama, bercanda, bernyanyi serta berjoget bersama dengan para Ibu dan Bapak pejabat disana. Bahkan di negara saya saja tidak pernah dijamu dengan sangat khususnya dengan ibu dan bapak pejabat yang terlihat angkuh disini. Hehe - mungkin suatu saat nanti, amin. Kami juga mendapatkan ucapan terimakasih dari pihak KJRI karena telah melakukan people to people diplomacy khususnya dalam bidang budaya Indonesia.
Diberi kesempatan saling mengenal lebih jauh dan membangun jaringan diberbagai kegiatan menghasilkan sebuah ikatan keluarga antara kami dan Vietnamese, secara tidak langsung mengikat perasaan kami, saling ketergantungan, dan sulit dipisahkan. Sampai akhirnya waktu yang berbicara, kami harus berpisah, berpulang ke tanah air kami yang kami cintai untuk menjalankan kembali kewajiban-kewajiban yang kami tinggal beberapa saat. Sedih rasanya kala itu, sampai sekarang pun juga. Mungkin kalau anak muda di Indonesia sering galau karena cinta membabi buta yang tak jelas arahnya, kami pun merasakan hal yang sama galau yang tidak bertuan. Rasa rindu yang menggebu ingin bertemu mereka kembali.




.jpg)


No comments:
Post a Comment