Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, February 2, 2013

Dewasa

semakin dewasa semakin lebih banyak menemukan manusia munafik dan naif.
manusia yang egois, yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya
semakin menyadari juga bahwa diri ini larut terbawa dalam arus kemunafikan dan keegoisan manusia-manusia yang pasti semuanya mempunyai sisi busuk dihatinya
READ MORE - Dewasa

Friday, July 13, 2012

Zaman ini zamannya modernisasi cuy

Anwar, umur 10th, sedang asik mengotak atik komputernya, papanya sedang sibuk membanting tulang mencari uang-semoga uang halal, mamanya sedang asik mengikuti kegiatan sosial bersama dengan teman-temannya-sedang anak sendiri ditelantarkan, miris. ketika melihat dari jendela kamarnya Anwar terlihat asik dengan komputernya, mari kita berpikir positif bahwa dia sedang mengerjakan tugas membuat karya tulis beratus halaman, walaupun ketika kita zoom yang ada tampak di layar kacanya adalah seorang pria dan wanita sedang main kuda-kudaan tak beralaskan sehelai pakaian, ketika ditanya, dapat darimana? beli bersama temannya di pasar

Bintang, umur 13th, sedang masa puber, pulang dari rumah ketika ibunya sedang menjual nasi dan gorengan di depan rumah, berganti baju dan bergegas untuk pergi lagi, ketika ditanya hendak kemana, dia hanya berujar ingin mengerjakan tugas dengan temannya di rumah teman. sambil tersenyum senang si ibu menghampiri dan memberi bekal dan berujar "yang rajin ya nak". tanpa diketahui ada sesosok pria berumur 30tahunan bermodalkan motor gede dengan tampang paspasan menunggui Bintang dengan sedikit mengorek jerawat.

Tommy, umur 12th, sedang asik dengan ponselnya sambil tertawa-tawa tersenyum, disampingnya ada bapaknya yang sedang mencuci mobil dan motor, ibunya sedang memasak. ketika di zoom, yang tertera di layar kacanya adalah Messenger berbasis Chatting dari seorang perempuan berjenjang lima di atas umurnya yang baru dikenalnya lima hari yang lalu melalui jejaring sosial, di layar hapenya terlihat pesan "I Miss You :* Hope u can be there tomorrow, My Future Husband"

Lia dan Genknya, berumur 15tahun, berjalan berlenggok di koridor sekolah seakan sekolah milik mereka, gaya mereka semua sama, rambut panjang, muka putih leher hitam, rok setengah paha, kaos kaki tinggi sepakbola, sepatu berhak, bb di kalung, ketika tersenyum terlihat pagar di gigi. menuju kantin, memesan makanan-bakwan satu, minuman dingin aneka rasa, duduk di tempat yang sama-strategis terlihat kaka kelas, membicarakan hal yang tidak pantas dibicarakan, tertawa keras centil, seolah sekolah milik mereka. ya bagi mereka sekolah ini milik mereka.

Anwar, Bintang, Tommy, Lia itu mungkin sudah banyak terlihat di kehidupan nyata kita, entah apa yang membuat di umur mereka sekarang mereka seperti itu.

Bahkan mereka tidak mengenal siapa pahlawan yang ada di mata uang indonesia-rupiah nominal 10000, tidak bisa menghapal isi dari dasar negara, tidak lagi menyanyikan lagu "ambilkan bulan" dan bermain karet bahkan petak umpet.

Tidak menyalahkan zaman, tidak, yang salah ada manusia yang tidak bisa memaknai perubahan zaman, melestarikan adat budaya yang ada di Indonesia. Sudah cukup membodohi dan meracuni kaum yang akan menerusi perjuangan kalian.

Bayangkan akan jadi apa mereka di kemudian hari?





Andaikan mereka boleh memilih hidup di zaman apa..
READ MORE - Zaman ini zamannya modernisasi cuy

Friday, July 6, 2012

bawa daku ke masa kecilku

pagi hari ketika kita dibangunkan oleh alarm bunyi ketuk kamar dan suara lembut dari seorang peri yang selalu melindungiku, bangun terkantuk dan berujar, iya 5 menit lagi dan kembali bergelamut dengan bantal dan menarik selimut dan begitu seterusnya
hingga jarum panjang menunjukan angga 11, barulah tersadar dan beranjak dari tempat tidur dengan terburu-buru dan lupa sesuatu yang membuat saya menerima hukuman atas kelalaian saya di sekolah
putih merah - datang ke sekolah berburu dengan gerbang sekolah yang hampir tertutup berlarian dengan yang lainnya, padahal saya tahu walaupun gerbang sudah tertutup pun akan dibukakan lagi untuk saya dan lainnya :)
bersemangat mempelajari sesuatu hal yang baru, memamerkan barang yang baru dibeli di supermarket dekat rumah dengan teman sebelah dengan bangganya mendengar kata wow dari mereka, hahahaha :)
selalu bersemangat, tidak ada ngantuk-ngantuk seperti sekarang, tiap detik memperhatikan papan tulis dan mengikuti, berteriak jika tidak tahu :)
ketika bel berbunyi lekas pergi ke lapangan, berlompat berlari bersemangat, yaaa bersemangat. tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, memanjat pohon ya memanjat, bertengkar ya bertengkar, kasti ya kasti, karet, bekel, bola gebok, main rumah-rumahan dan bermain tradisional :) tidak ada perbedaan diantara kami, tidak ada malu, masih teringat jelas ketika bermain pelorot celana, menaikkan rok diatas pinggang untuk berlompat di karet, hahahaha, ya, tidak ada malu dan selalu bersemangat
ketika sudah lelah kemudian, berhenti sejenak mengambil makanan untuk bekal, memamerkan apa yang dibuat oleh ibu masing-masing, bahkan berbagi jika ada yang tidak membawa atau membawa ala kadarnya, manisnya :)
pulang sekolah, kadang kita bermain-bukan les- di tempat guru, sekali lagi dengan bersemangat, mengikuti pelajaran tambahan dengan sebelumnya mengisi bahan bakar tubuh dulu di rumah teman, hahaha, tidak jadikan guru sebagai guru saja, bahkan lebih, seperti orang tua, kaka, dan ya yang disayangi, membuat kue, tertidur disana, merecoki rumahnya, membangunkan anaknya dan bermain, ah indahnya, tidak ada beban
pulang kerumah, menunggu angkutan umum dengan teman, jika sedang macet, kami memilih jalan dan berlari di pinggir jalan daripada panas-panasan di dalam, lagi-lagi dengan semangat berdendang ria.
sampai rumah, sempat tidur-walau sebentar, sorenya jika tidak mengaji, maka waktunya untuk bermain di depan rumah, entah permainan apa aja itu :) ketika hujan datang, tidak serta merta langsung berdiam dirumah, keluar, rasakan hujan, menyambut banjir dengan suka cita. ketika sudah ada tanda-tanda orang tua pulang, lekas masuk kedalam rumah, dengan cacing yang sudah mati menempel di kaki dan sampah di kantong :)
malamnya, mengerjakan PR di bantu oleh orang tua dan saudara, menonton tv, bercerita tentang hari yang sudah dilalui. jika sedang lapang bahkan sempatnya bermain kecil-kecilan, bernyanyi dan menari di depan rumah, dilihat dari atas pagar ada tukang becak yang sedang melihat sambil lalu, hahahaha
 kemudian
tertidur pulas penuh dengan senyum
selalu bersemangat
bahkan saat tidur
entah bagaimana perasaannya
selalu menanti hari esok

bisakah perasaan itu hadir kembali sekarang?
READ MORE - bawa daku ke masa kecilku

Friday, November 4, 2011

Dia Menyukai Doa Orang BerSabar

Seperti pengamen yang ada di jalanan, kalo pengamen yang suaranya sember dan tidak bagus pastinya kita ingin sekali langsung cepat-cepat mengangkat tangan (tanda minta maaf) atau langsung memberi uang agar ia cepat-cepat pergi, sedangkan untuk pengamen yang suaranya merdu pasti kita nyaman berdiam diri ingin mendengarkan lagunya sampai habis atau nyanyiannya berulang-ulang baru diberikan pujian dan imbalan, ingin sekali berlama-lama dengannya.


Begitu juga dengan doa, Allah ingin sekali mendengar umatnya yang berdoa secara khusyuk berlama-lama seperti nyanyian merdu yang tak kunjung usai dan tidak ingin umatnya pergi cepat-cepat meninggalkanNya, Allah ingin kita selalu dekat denganNya. Tetapi ketika sudah habis atau sudah dirasa cukup, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan tersebut, lebih dari mungkin yang kita harapkan, Subhanallah.

Maka jangan pesimis, selalu ikhtiar dan berdoa untuk mencapai apa yang dirasa kita butuhkan tersebut :)

Tetapi berdoa seperti apa yang baik tersebut?

Doa yang tidak menjurus langsung dengan keinginanmu, karena sesungguhnya Dia hanya akan memberi apa yang kamu butuhkan. Mintalah apa yang terbaik untukMu yang Dia rasa - karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Perumpamaan seperti ini, di perjalanan pulang sepulang kamu mendapatkan gaji pertama, kamu bertemu dengan seorang anak di tepi jalanan dengan tampang murung. Setelah kamu dekati, si anak mengatakan bahwa dia kelaparan - karena tidak makan selama dua hari, lalu kamu mengajaknya untuk makan bersama, tetapi si Anak menolak karena ia hanya mau - setidaknya - satu lembar duit berwarna merah dari  dompetmu, apa yang kamu pikirkan tentang anak itu? Apa yang kamu lakukan?

Lalu doa yang tidak pernah berpusat pada kepentingan sendiri, tetapi doa yang diperuntukkan untuk kepentingan orang banyak. Bayangkan, analognya seperti ini, ketika kamu berbicara dengan temanmu, dan arah pembicaraannya selalu terpusat di dirinya sendiri, seolah tidak ada obrolan tentangmu dan tentang yang lain, apa yang kamu rasa? Sekali dua kali saya rasa kamu akan biasa saja dan tertarik mendengarkan, tetapi ketika ratusan kalinya dia menemuimu pasti kamu langsung lari atau menghindar karena ada gejolak di perutmu mendengar ucapannya - mual.

Percayalah ketika kamu berdoa untuk semesta, maka semesta akan turut berdoa untukmu dan kebahagiaanmu juga :)





titik kesadaran : Betapa panjang waktuku yang telah Kau berikan, tetapi betapa pendek waktu yang kuberikan untuk kebersamaanku dan Kau :'(
READ MORE - Dia Menyukai Doa Orang BerSabar